Rabu, 09 Desember 2015

Sepenggal Kisah Manis Antara Kau dan Dia






Hi, bagaimana kabarmu??

Aku sedang duduk di tepi jendela dan berkelakar kamu sedang apa di tempat yang tidak bisa untuk kujangkau. Kenangan-kenangan indah kebersamaan kita terbersit bagai film series yang terus berputar secara runtut. Mengisahkan bagaimana kita merangkai pahit manisnya kehidupan yang begitu keras dan membuat kita menyerah kepada takdir yang terus memperkokoh dindingnya menunjukkan egonya dan keangkuhannya. Namun, dalam hati kecilku aku terus mengimani bahwa kamu akan selalu mengingat semua memori itu, walaupun keadaan tak lagi sama.


Kupegang dan kutatap dengan lembut sosok fotomu yang tersenyum lebar. Entah, aku tidak tahu apakah kamu masih terlihat sama seperti pada foto yang kini kulihat. Sebelum kamu pergi 8 tahun yang lalu, kamu masih memelihara rambut yang sedikit panjang, kamu selalu membanggakan style bernama semi long hair itu. Yang terkadang mebuatku gemas dan rewel untuk memotong rambutmu. Karena kurasa style itu tidak cocok dengan kamu yang berprofesi sebagai reporter tv yang harus dituntut untuk selalu tampil segar ketika akan meliput berita. Dan akhirnya kamu mengalah untuk memotong rambut itu demi kecintaanmu terhadap dua hal yaitu aku dan profesimu sekarang, ah tak terasa bibirku mengembangkan senyuman setiap mengingat semua tingkah menggemaskanmu setiap perdebatan kecil yang terjadi diantara kita.

Aku tak dapat menahan ledakan tawa setiap kali mengingat pertama kali kamu inframe untuk melaporkan sebuah bencana alam gunung meletus. Kamu mati-matian berjuang agar dapat menerjang kerasnya medan tersebut, sampai harus mengorbankan sepatu dan celana pemberianku sobek dan kamu terus menerus meminta maaf akan kesalahan tersebut. Tapi aku tidak pernah bosan mendengarnya. Telingaku tak sabar menunggu tiap suara beratmu saat hendak meminta maaf dan saat akan latihan take ulang untuk liputan beritamu.

Aku tidak lagi secengeng dulu, saat awal-awal kamu baru saja pergi. Aku sudah kebal dihantam rindu setiap kali teringatmu, terlebih ketika melihat berpasang-pasang manusia memamerkan kemesraannya. Sering muncul keraguan besar tentang pertanyaan-pertanyaan retoris, apakah kamu masih mencintaiku dan mengingatku lagi?
Namun, berbicara tentang batas terkadang kita harus realitas, kan? Kita harus melangkah maju tidak mungkin kita terus terjebak dalam nostalgia. Tidak terpaku pada satu titik yang membuat kita selalu menengok ke belakang dan berdiri statis tanpa arah dan tujuan. Kamu harus memahami bahwa setiap penantian membutuhkan jawaban atas sebuah kepastian. Sebab kita tidak bisa memesan kepastian terhadap waktu. Beberapa hal memang terkadang tidak perlu jawaban, dan yang tidak terjawab kadang adalah sebuah jawaban. Waktu terus berputar kedepan dan aku tidak ingin berjalan mundur dan tertinggal jauh.

Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan satu per satu hal yang berkorelasi dengan kita. Meninggalkan kenangan dan rencana indah masa depan kita yang dahulu kita rajut bersama. Kita berdiskusi semalaman ditemani kerlip bintang yang seakan ikut menyemarakkan dunia khayal kita. Rencana masa depan untuk bisa hidup bersama, memiliki banyak hewan peliharaan biar aku tidak merasa kesepian ketika kamu pergi bekerja, mempunyai anak-anak yang lucu, pergi treveling ke seluruh Indonesia dan ah sudahlah. Tak terasa bulir bening itu mengalir dari sudut mataku. Kaulah satu-satunya lelaki yang belum pernah menyakitiku. Itulah sebabnya ibuku pun menyayangimu dengan beberapa kali bertemu saja, andai kamu tahu ibuku adalah orang yang pemilih untuk masalah teman lelakiku. Karena kegagalan dan penghianatan yang dilakukan ayahku dulu memberikan goresan pahit. Aku akan mencintaimu sampai waktu menuntunku untuk melupakanmu. Dan bila hari itu tiba, sudah saatnya aku untuk mengucapkan selamat datang dari sekarang. Karena aku takut tidak sempat mengucapkan seperti halnya kamu yang tidak sempat mengucapkan janji untuk kembali.

Oh iya, apakah kamu ingat 3 hari lagi adalah hari ulang tahunku? Hahaha, kamu tau pasti bahwa siapa orang yang akan mendapatkan potongan kue pertama? Sayangnya, kali ini bukan lagi kamu. Ada seseorang yang telah mendobrak pintu hatiku. Menyadarkanku bahwa kamu telah pergi jauh ke tempat keabadian yang tak mampu kujangkau saat ini. Loyalitasmu terhadap profesimu telah membawamu pergi dari dekapanku, namun kuyakin kamu pasti tidak akan pernah menyesal atas pilihanmu. Senyuman indah yang kau berikan saat akan berpamitan untuk pergi meliput berita di jalur Gaza adalah senyuman terakhirmu yang begitu menawan sampai musibah itu kecelakaan itu datang. Pesawat yang kau tumpangi harus menjadi korban sasaran rudal. Cintaku padamu begitu hebat hingga merebut kewarasanku. Ketika proses merelakan kepergianmu ada seseorang yang terus menemaniku, cintanya kepadaku juga tak kalah kuat. Hingga banyak yang menyebutnya gila karena telah berharap banyak kepada sosok gadis yang dibayangi oleh luka masa lalu. Namun, karena kegigihan dan ketulusan yang selalu dicurahkan membuatku luluh dalam pesona cinta yang menurutku taka da yang menandingi setelah kepergianmu.

Aku selalu bersyukur atas scenario yang Tuhan berikan kepadaku. Dan aku selalu merapalkan namamu dalam setiap doaku agar kamu selalu berada dalam dekapan Tuhan. Aku akan selalu mengingat untuk tidak selalu menjadi gadis teledor, tidak akan cengeng lagi setiap membaca novel sedih, semua wejangan-wejangan yang kau ucapkan akan menjadi wasiat indah dihati.

Sekarang aku telah memiliki kehidupan yang bahagia, yang dulu pernah kita impikan, semua benar-benar terasa manis. Namun kamu akan selalu berada di hatiku sebagai kenangan masa lalu yang terindah yang mengajarkanku untuk bisa selalu tersenyum dan menatap dunia dengan dagu terangkat, kamu telah mengubah sosok gadis polos ini menjadi gadis yang tegar dan kuat.

Untuk kamu masa depanku sekarang, terima kasih telah memberikan kesabaran dan uluran tanganmu membantuku berdiri lagi dari keterpurukan. Terimaksih untuk beribu cinta yang kini mewarnai hariku. Sekarang aku percaya bahwa kekuatan cinta mampu menyembuhkan luka apapun, kekuatan cinta mampu mengalahkan resep obat yang dituliskan dokter. Dahulu aku selalu menganggap ini hanya bualan manis para penulis novel untuk memberikan sugesti kepada pembacanya. Tapi kini mukjizat Tuhan yang beratasnamakan cinta meman benar nyata adanya.


                                                                                                                   N.A.D 


Nb : Cerpen ini akan di publish di majalah PGSD namun entahlah bakal di edit bagaimana, kalau yang ini versi lengkapnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar