Hi, bagaimana kabarmu??
Aku sedang duduk di tepi jendela dan
berkelakar kamu sedang apa di tempat yang tidak bisa untuk kujangkau.
Kenangan-kenangan indah kebersamaan kita terbersit bagai film series yang terus
berputar secara runtut. Mengisahkan bagaimana kita merangkai pahit manisnya
kehidupan yang begitu keras dan membuat kita menyerah kepada takdir yang terus
memperkokoh dindingnya menunjukkan egonya dan keangkuhannya. Namun, dalam hati
kecilku aku terus mengimani bahwa kamu akan selalu mengingat semua memori itu,
walaupun keadaan tak lagi sama.
Kupegang dan kutatap dengan lembut sosok
fotomu yang tersenyum lebar. Entah, aku tidak tahu apakah kamu masih terlihat
sama seperti pada foto yang kini kulihat. Sebelum kamu pergi 8 tahun yang lalu,
kamu masih memelihara rambut yang sedikit panjang, kamu selalu membanggakan
style bernama semi long hair itu.
Yang terkadang mebuatku gemas dan rewel untuk memotong rambutmu. Karena kurasa
style itu tidak cocok dengan kamu yang berprofesi sebagai reporter tv yang
harus dituntut untuk selalu tampil segar ketika akan meliput berita. Dan
akhirnya kamu mengalah untuk memotong rambut itu demi kecintaanmu terhadap dua
hal yaitu aku dan profesimu sekarang, ah tak terasa bibirku mengembangkan
senyuman setiap mengingat semua tingkah menggemaskanmu setiap perdebatan kecil
yang terjadi diantara kita.
Aku tak dapat menahan ledakan tawa setiap
kali mengingat pertama kali kamu inframe untuk melaporkan sebuah bencana alam
gunung meletus. Kamu mati-matian berjuang agar dapat menerjang kerasnya medan
tersebut, sampai harus mengorbankan sepatu dan celana pemberianku sobek dan
kamu terus menerus meminta maaf akan kesalahan tersebut. Tapi aku tidak pernah
bosan mendengarnya. Telingaku tak sabar menunggu tiap suara beratmu saat hendak
meminta maaf dan saat akan latihan take ulang untuk liputan beritamu.
Aku tidak lagi secengeng dulu, saat
awal-awal kamu baru saja pergi. Aku sudah kebal dihantam rindu setiap kali
teringatmu, terlebih ketika melihat berpasang-pasang manusia memamerkan
kemesraannya. Sering muncul keraguan besar tentang pertanyaan-pertanyaan
retoris, apakah kamu masih mencintaiku
dan mengingatku lagi?
Namun, berbicara tentang batas terkadang
kita harus realitas, kan? Kita harus melangkah maju tidak mungkin kita terus
terjebak dalam nostalgia. Tidak terpaku pada satu titik yang membuat kita
selalu menengok ke belakang dan berdiri statis tanpa arah dan tujuan. Kamu
harus memahami bahwa setiap penantian membutuhkan jawaban atas sebuah kepastian.
Sebab kita tidak bisa memesan kepastian terhadap waktu. Beberapa hal memang
terkadang tidak perlu jawaban, dan yang tidak terjawab kadang adalah sebuah
jawaban. Waktu terus berputar kedepan dan aku tidak ingin berjalan mundur dan
tertinggal jauh.
Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan satu
per satu hal yang berkorelasi dengan kita. Meninggalkan kenangan dan rencana
indah masa depan kita yang dahulu kita rajut bersama. Kita berdiskusi semalaman
ditemani kerlip bintang yang seakan ikut menyemarakkan dunia khayal kita.
Rencana masa depan untuk bisa hidup bersama, memiliki banyak hewan peliharaan
biar aku tidak merasa kesepian ketika kamu pergi bekerja, mempunyai anak-anak
yang lucu, pergi treveling ke seluruh Indonesia dan ah sudahlah. Tak terasa bulir
bening itu mengalir dari sudut mataku. Kaulah satu-satunya lelaki yang belum
pernah menyakitiku. Itulah sebabnya ibuku pun menyayangimu dengan beberapa kali
bertemu saja, andai kamu tahu ibuku adalah orang yang pemilih untuk masalah
teman lelakiku. Karena kegagalan dan penghianatan yang dilakukan ayahku dulu
memberikan goresan pahit. Aku akan mencintaimu sampai waktu menuntunku untuk
melupakanmu. Dan bila hari itu tiba, sudah saatnya aku untuk mengucapkan
selamat datang dari sekarang. Karena aku takut tidak sempat mengucapkan seperti
halnya kamu yang tidak sempat mengucapkan janji untuk kembali.
Oh iya, apakah kamu ingat 3 hari lagi
adalah hari ulang tahunku? Hahaha, kamu tau pasti bahwa siapa orang yang akan
mendapatkan potongan kue pertama? Sayangnya, kali ini bukan lagi kamu. Ada
seseorang yang telah mendobrak pintu hatiku. Menyadarkanku bahwa kamu telah
pergi jauh ke tempat keabadian yang tak mampu kujangkau saat ini. Loyalitasmu
terhadap profesimu telah membawamu pergi dari dekapanku, namun kuyakin kamu
pasti tidak akan pernah menyesal atas pilihanmu. Senyuman indah yang kau
berikan saat akan berpamitan untuk pergi meliput berita di jalur Gaza adalah
senyuman terakhirmu yang begitu menawan sampai musibah itu kecelakaan itu
datang. Pesawat yang kau tumpangi harus menjadi korban sasaran rudal. Cintaku
padamu begitu hebat hingga merebut kewarasanku. Ketika proses merelakan
kepergianmu ada seseorang yang terus menemaniku, cintanya kepadaku juga tak
kalah kuat. Hingga banyak yang menyebutnya gila karena telah berharap banyak
kepada sosok gadis yang dibayangi oleh luka masa lalu. Namun, karena kegigihan
dan ketulusan yang selalu dicurahkan membuatku luluh dalam pesona cinta yang
menurutku taka da yang menandingi setelah kepergianmu.
Aku selalu bersyukur atas scenario yang
Tuhan berikan kepadaku. Dan aku selalu merapalkan namamu dalam setiap doaku
agar kamu selalu berada dalam dekapan Tuhan. Aku akan selalu mengingat untuk
tidak selalu menjadi gadis teledor, tidak akan cengeng lagi setiap membaca
novel sedih, semua wejangan-wejangan yang kau ucapkan akan menjadi wasiat indah
dihati.
Sekarang aku telah memiliki kehidupan yang
bahagia, yang dulu pernah kita impikan, semua benar-benar terasa manis. Namun
kamu akan selalu berada di hatiku sebagai kenangan masa lalu yang terindah yang
mengajarkanku untuk bisa selalu tersenyum dan menatap dunia dengan dagu
terangkat, kamu telah mengubah sosok gadis polos ini menjadi gadis yang tegar
dan kuat.
Untuk kamu masa depanku sekarang, terima
kasih telah memberikan kesabaran dan uluran tanganmu membantuku berdiri lagi
dari keterpurukan. Terimaksih untuk beribu cinta yang kini mewarnai hariku.
Sekarang aku percaya bahwa kekuatan cinta mampu menyembuhkan luka apapun,
kekuatan cinta mampu mengalahkan resep obat yang dituliskan dokter. Dahulu aku
selalu menganggap ini hanya bualan manis para penulis novel untuk memberikan
sugesti kepada pembacanya. Tapi kini mukjizat Tuhan yang beratasnamakan cinta
meman benar nyata adanya.
N.A.D
Nb : Cerpen ini akan di publish di majalah PGSD namun entahlah bakal di edit bagaimana, kalau yang ini versi lengkapnya :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar