Rabu, 09 Desember 2015

Kemunafikanku





Seperti malam biasanya, seusai pulang mengajar aku menaiki motor bebek hitam kesayanganku. Kususuri ramainya jalanan Surabaya, kunikmati pemandangan mobil, pedagang kaki lima serta café-café yang meramaikan perjalananku menuju kos. Sesampainya di kos, kebiasaan yang sering aku lakukan adalah mengecek smartphoneku yang dari tadi bergetar. Ternyata baterainya habis, akhirnya aku charge hpku lalu aku melanjutkan untuk mencuci muka agar lebih fresh, mengumpulkan tenaga untuk begadang mengerjakan tugas kuliah besok. Budaya mahasiswa yang buruk yaitu mengerjakan tugas H-1 sebelum dikumpulkan atau istilahnya The Power of Kepepet. Entahlah budaya ini dikembangkan oleh siapa, karena mereka menyakini kalau ide-ide ketika mengerjakan tugas akan bermunculan saat kita dipepet waktu. Hmmm…. Walaupun awalnya aku dulu aku tidak sepahaman dengan mitos ini, tapi akhirnya aku terjebak juga dalam budaya ini, karena buruknya manajemen waktuku.


Aku harus bisa membagi waktu antara kuliah, mengajar, tugas dan istirahat. Dan aku selalu menomor akhirkan tugasku. Yah mau bagaimana lagi, bukannya aku tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu tapi urutan waktu yang paling memungkinkan yaitu aku mengerjakan tugas di malam hari. Setelah aku mencuci muka dan bersiap-siap untuk mengerjakan tugas. Aku pergi melihat smartphone yang masih berjuang mengumpulkan energy. Tiba-tiba ada notifikasi chat yang membuat duniaku seakan berhenti berputar. Sebuah pesan yang selama ini aku sudah memperkirakan akan terjadi. Pesan berantai yang dikirim oleh teman lelakiku. Teman SMA yang dulu pernah mengajukan diri sebagai pasanganku. Dalam pesan tersebut Boy, nama teman lelakiku itu mengatakan Beb, maaf ya sebelumnya aku merasa ada yang janggal dengan hubungan kita. Jujur aku merasa kurang bertanggung jawab sebagai lelaki. Sekali lagi maaf, aku mau fokus terhadap proyek ku. Jadi untuk sementara kita break dulu.

Aku masih termangu dengan beberapa deretan kata yang terus memberondongi smartphoneku. Aku menarik nafas, udara dalam kamarku terasa pengap. Pasokan oksigen dalam paru-paruku berubah menjadi gas karbondioksida yang siap membunuhku dalam seperkian detik. Kupejamkan mata dan kuputuskan untuk membalas pernyataan tersebut.Baiklah bila ini memang terbaik buat kita, terutama buat kamu aku rela.Selang beberapa detik Boy membalasTapi aku berharap bahwa aku masih bisa memanggilmu “beb” dan menjadi teman dekatmu Nin.

Sontak dalam hatiku bertanya, lantas apa bedanya kita break dan tidak Boy?? Rasa kalut yang ada dalam hati berubah menjadi emosi. Bagaimana tidak emosi, Boy sebagai lelaki hanya mementingkan keegoisannya sendiri, aku tahu maksud Boy adalah baik dia tetap ingin menjalin silaturahmi. Tapi??? Bagiku tidak semudah itu. Boy hanya ingin tetap mempunyai wanita cadangan apabila pendekatannya dengan beberapa wanita gagal. Dasar lelaki, maunya enak sendiri. Boy masih gigih dengan serentetan kata indahnya untuk merayu dan menjelaskan bahwa dia hanya ingin focus, bahkan ketika kita beradu argument Boy sempat menawarkan pilihan apakah kamu sanggup bertahan dengan segala kesibukan projekku nanti? Kalau kamu memang sanggup mungkin hubungan kita masih bisa dilanjutkan. Aku semakin tidak mengerti dengan jalan pemikirannya. Bukankah dari dulu, awal kita menjalin hubungan ini didasari sesuatu yang serba tidak jelas? Semuanya terasa abu-abu. Bahkan aku dulu sempat meragukan apakah benar aku dan Boy adalah sepasang kekasih? Namun disaat keraguan itu datang menyapa, Boy memberikan secercah harapan dengan mendadak memberikan kabar. Emosiku semakin terpancing dengan perkataan Boy yang seakan-akan dia mengajak untuk berhenti namun dia tidak yakin dan masih berharap terus bisa menjalankannya.

Boy, apakah selama ini aku begitu mengganggumu? berjuang melawan ketidakpastian dan harus bersabar dari hubungan abu-abu yang kita jalani ini sudah cukup menguras tenagaku. kumohon mengertilah akan semua itu. Kuharap apabila kamu mau berhenti ya berhentilah jangan membelengguku lagi dengan ketidakpastian yang tak berujung. Namun, apabila kamu masih yakin dan mau hubungan ini berjalan aku akan sanggup bertahan lebih keras lagi. Karena mungkin aku sudah bersahabat dengan yang namanya perasaan sabar. Sungguh Boy berjuang sendirian itu sangatlah menyakitkan dan membuang waktu. Dan aku melihat bahwa selama ini kamu hanya membutuhkanku disaat kamu sendirian, tidak pernah ada keseriusan. Untuk itu kumohon jangan menyiksaku lagi dengan “Break” yang kamu maksud.
Setelah selesai menuliskan itu semua, baru kusadari bahwa selama aku meluapkan emosi. Aku menahan nafas, karena seluruh pusat perhatianku tertuju pada Boy. Setalah 2 jam berlalu dan Boy hanya membalas empat kata yang membuat perjuangan ku untuk bersabar berasa sia-sia namun juga melegakan. “iya maaf selama ini”.

Setelah membaca pesan singkat tersebut, kakiku terasa lemas semuanya telah benar-benar berakhir. Mungkin ini terdengar seperti lelucon, karena awal aku menjalin hubungan dengan Boy adalah hanya keisengan ku belaka. Kalau dipikir-pikir lucu juga, sekarang aku harus merasakan sakit hati yang kubuat sendiri. Aku tidak pernah memprediksi bahwa hubungan yang abu-abu ini mampu menggoreskan luka yang teramat perih. Namun, lambat laun aku mulai menaruh harapan dan aku yakin bahwa ini tidak hanya sekedar hubungan yang abu-abu. Kesalahan terbesarku adalah ketika aku mulai terlena akan jerat rayu Boy aku tidak menanyakan apakah Boy menganggap serius hubungan ini. Karena, selama kami menjalin hubungan ini, tidak terjalin komunikasi yang harmonis. Mungkin intensitas hubungan kami bisa dihitung jari tangan, karena Boy selalu berdalih kesibukan dan tanggung jawab yang dia emban menuntutnya untuk tidak selalu memegang HP. Oke fine, aku bisa memakluminya. Dan itu semua terus berjalan hingga 2 tahun lebih. Mungkin disini yang bersalah tidak hanya Boy, namun aku juga ikut andil melakukan kesalahan. Untuk itu, aku ingin menuliskan kejujuran yang selama ini Boy tidak tahu.

Dear Boy
Hai Boy, bagaimana kabarmu? Bagaimana tugas akhirmu? Apakah semuanya sudah berjalan dengan lancar? Apakah semua sesuai dengan yang kau rencanakan? Aku berharap semuanya lancar dan targetmu untuk bisa wisuda tahun depan dapat terwujudkan. Aku yakin kamu pasti bisa. Sejujurnya Boy, ketika kamu memutuskan untuk menyudahi hubungan ini, aku merasakan patah hati. Mungkin kamu menganggap bahwa aku tidak serius dalam menjalani hubungan ini. Asal kamu tahu, aku bersikap seperti itu untuk menjaga agar aku tidak seperti gadis manja yang membutuhkan 24 jam perhatianmu mengingat sekarang kita sudah dewasa. Yang bisa aku lakukan selama ini hanya mendukungmu dan merapalkan doa agar semua penantian ini berakhir indah. Namun Tuhan sepertinya belum mengabulkan doaku. Boy. Mungkin aku telah terjebak dengan perangkap kemunafikan yang telah aku bangun, aku terlalu gengsi sebagai wanita, aku khawatir ada ketidakpastian dalam hubungann ini namun aku terlalu takut ketika aku memulai pembahasan yang serius kamu belum siap dan semuanya akan bertambah lebih runyam, untuk itu aku memilih tetap membungkam mulutku. Jujur, tiap kali kita mulai melalukan komunikasi yang intens aku merasakan layaknya menjadi ABG muda labil yang merasakan indahnya jatuh cinta tersenyum sendiri dan merasakan bibit-bibit cinta mulai bersemi dalam hati, namun lagi-lagi gengsi mebuatku harus terlihat biasa saja. Ketika komunikasi kita mulai tersendat dengan durasi waktu yang cukup lama tanpa ada kabar dan kepastian darimu, aku harus menelan pil pahit lagi, merasakan perih, sendirian dan harus tetap tersenyum mencari kebahagiaanku. Ini adalah bagian dari siklus abu-abu yang paling tidak kusukai. Ini sungguh menyakitkan, tetapi aku tetap mengimani bahwa sesuatu yang didasari dengan niat baik akan memetik hasil yang baik juga, namun apabila ini tidak sesuai dengan harapanku mungkin aku tengah menjalani fase memetik karma atas perbuatan burukku yang dulu. Aku mencoba menyikapi semuanya dengan dewasa. Dan untuk alasan mengapa aku selalu mengumbar status kalau masih single karena apalagi kalau bukan masalah “abu-abu” bahkan aku tidak mengetahui dengan detail keseharian apa yang kamu jalani, peristiwa apa saja yang telah kau lalui, siapa teman-temanmu. Apakah kamu juga tahu apa saja kegiatan yang sedang aku lakukan, diamana kamu ketika aku tengah terpuruk? semuanya berjalan secara pincang, bukankah hubungan harus didasari dengan komunikasi yang terjalin secara 2 arah?. Aku seakan-akan tidak mempunyai hak itu, dan aku tidak berani untuk memulai karena aku takut bahwa aku akan mengganggu dari secuil waktumu yang berharga. Mungkin aku terlalu bodoh dan terlalu berharap banyak. Namun sekarang aku telah sadar dan banyak belajar dari waktu yang tak pernah pamrih menuntun hatiku singgah pada hati seseorang. Atas nama roda kehidupan yang selalu berjalan. Menghilanglah lukaku ini dalam kesunyian, setelah itu belajar untuk menemukan yang ingin menemukanku. Dan aku merelakan senyum kebahagiaanmu diciptakan oleh dia yang benar-benar kau pilih dan kau sayangi. Sekali lagi aku hanya menanamkan keyakinan pada jalan ini akhir dari ketidakpastian, semoga pada jatuh cinta berikutnya Tuhan memberi jatuh cinta yang baik, yang mengangkat keseriusan dan kejujuran sebagai penghargaan tertinggi.


PS : baca sambil dengerin lagunya Hello- Adelle biar tambah greget, Thanks J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar